kota batik
Bagikan ke :

“Kota batik di Pekalongan, Bukan Jogja, bukan Solo”.

Albatique.id – Itulah merupakan salah satu cuplikan lagu Sosial Betawi Yoi yang dipopulerkan oleh Slank. Kenapa Pekalongan disebut dengan kota batik? Perlu batiqlovers ketahui, batik Pekalongan memiliki corak yang cukup khas dan variatif. Batik juga telah mendarah daging didalam tubuh masyarakat Pekalongan sendiri, yang sudah terbiasa mengenakan batik dalam setiap aktivitasnya. Industri batik juga menjadi jantung perekonomian masyarakat dari Kota Pekalongan. Ditambah lagi, kota Pekalongan telah masuk jaringan kota kreatif UNESCO dalam kategori Crafts & Folk Art pada Desember 2014 dan memiliki city branding World’s City of Batik.

Mengenal Batik!

Apabila ingin mengenal lebih dalam tentang batik, tentu batiqlovers perlu datang ke Museum Batik Nasional yang terletak di Jalan Jetayu No.1 Pekalongan, Jawa Tengah. Gedung museum ini dulunya merupakan peninggalan Hindia Belanda yang dibangun pada tahun 1906. Gedung ini dulunya digunakan untuk pabrik gula di wilayah Karesidenan Pekalongan. Dimana terdapat bunker untuk menyimpan uang dan keuntungan dari industri gula. Hingga sekarang pun, bunker tersebut masih ada dan dialihfungsikan sebagai tempat menyimpan koleksi batik.

Pada jaman kependudukan Jepang, gedung ini digunakan oleh para petinggi Jepang sebagai kantor untuk mengatur jalannya pemerintahan di Pekalongan. Setelah Indonesia merdeka, dimulai sekitar tahun 1950 gedung ini digunakan sebagai kantor pusat pemerintahan daerah Pekalongan.

Museum Batik Nasional Pekalongan didirikan pada 23 Mei 2006 dan diresmikan secara langsung oleh Presiden Republik Indonesia kala itu, Bapak Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono pada 12 Juli 2006. Tujuan didirikannya Museum Batik ini adalah sebagai pusat data dan informasi mengenai batik, perpustakaan dan acuan dalam hal perbatikan, memamerkan beragam koleksi batik klasik, batik lawasan dan batik kontemporer, serta sebegai wadah untuk menggali, melestarikan dan mengembangkan batik sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.

Fasilitas yang terdapat dalam museum ini antara lain 3 ruang koleksi batik, ruang perpustakaan, kedai batik, ruang workshop batik, ruang pertemuan, dan ruang konsultasi atau pelayanan hak kekayaan intelektual (HKI). Pengunjung juga dapat belajar secara langsung bagaimana cara membatik ataupun melihat bagaimana proses kain batik dibuat. Selain itu, Museum Batik Nasional Pekalongan juga menyimpan beragam sumbangan kain batik dari pejabat-pejabat negara seperti dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Budiono, Hatta Rajasa, dan batik sumbangan Ainun Habibie.

Untuk masuk ke Museum Batik Pekalongan, kita cukup membayar biaya tiket masuk seharga Rp. 2000,00 untuk pelajar dan Rp. 4000,00 untuk dewasa. Museum ini buka setiap hari mulai pukul 08.00-15.00 WIB, termasuk pada hari Minggu dan hari libur nasional.

Dapatkan pengetahuan yang lainnya disini :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.